Home » , » Situs Ibunya Prabu Aji Putih Ada di Desa Cipancar Kecamatan Sumedang Selatan

Situs Ibunya Prabu Aji Putih Ada di Desa Cipancar Kecamatan Sumedang Selatan

Posted by SUKMAWIJAYA QOMARA
sukma wijaya qomara, Updated at: 08.36

Posted by SUKMAWIJAYA QOMARA on Rabu, 21 Desember 2016

1. Historis Desa Cipancar Kecamatan Sumedang Selatan
Lokasi Desa Cipancar yang terletak di Kabupaten Sumedang bagian Selatan.  Sama dengan beberapa daerah lain, mayoritas penduduk Cipancar bermata pencaharian sebagai petani. Sisanya, ada yang beternak atau berdagang bahan pangan.

Cipancar berdiri sekitar abad ke 7-8 M. Salah satu kampung buhun (kampung tua) yang ada di Sumedang karena Cipancar berdiri lebih dulu dari Kota Sumedang.

Pada saat itu Kerajaan Galuh Pakuon yang berlokasi Di Garut di mana sang Raja hendak menurunkan tahta kepada anaknya yang bernama Purbasora terjadilah kudeta (perebutan kekuasaan di antara keluarga). Dari kudeta itu terjadi perang bersaudara yang membuat Purbasora terdesak. Akhirnya Purbasora bersama ketiga putranya yang masing-masing bernama Prabu Wijaya Kusuma, Wiradi Kusuma (Sunan Pameres) dan Ratu Komalasari (Sunan Pancer) disertai Jaksa Wiragati harus lari meninggalkan Galuh yang tengah kacau.

Mereka berlari tanpa tahu tujuan. Yang mereka pikirkan hanya bagaimana mereka bisa selamat dari kekacauan yang terjadi di kerajaan. Hingga sampailah mereka di daerah yang kini bernama Cipancar.

Pada saat itu di Cipancar memang sudah ada sedikit penghuni namun daerahnya belum memiliki nama. Kebetulan pada saat pertama kali Purbasora menjejakkan kaki di daerah itu, muncul mata air yang entah dari mana mengalir deras. Dengan spontan Purbasora berkata, "Cipancar,... Cipancar," yang berarti air memancar.

Sebutan itulah yang sampai saat ini menjadi nama bagi desa Cipancar. Purbasora dan ketiga anaknya menanami Cipancar dengan benih padi yang dibawa dari Galuh Pakuon. Hasil panen itu dibagikan kepada masyarakat. Tempat pembagiannya dikenal dengan sebutan Baginda.

Maka dari itu kita mengetahui bahwa terbentuknya Desa Cipancar sangat erat kaitannya dengan kudeta yang terjadi di Galuh Pakuon. Nama Cipancar sendiri diambil dari perkataan Purbasora yang berarti Cai Mancer (air memancar). Mata air itu masih ada hingga sekarang di lingkungan makam Eyang Tajur (Suta Ngumbar) putra prabu Siliwangi (Surya Kencana).

Terkait seni budaya, di Desa Cipancar masih terdapat beberapa jenis seperti Calung dan Tarian.

Mitos yang berkaitan dengan Budaya, di Desa Cipancar terdapat keyakinan terkait nama binatang. Di Desa Cipancar ada larangan untuk menyebutkan nama Ucing (Kucing). Sebagai gantinya bisa menggunakan nama Enyeng. Selain tidak boleh menyebutkan nama Ucing. Warga masyarakat Desa Cipancar juga, tidak boleh mempergelarkan pertunjukan seni Wayang Golek dan menabuh Goong.

Larangan menggelarkan pertunjukan wayang seperti halnya di Cipaku Darmaraja dikarenakan, di dalam buku Pakuning Alam Darmaraja tercatat merupakan amanat buyut  / pantangan, yaitu : 


Di Darmaraja teu kenging Nanggap WAYANG... sabab nu bakal ngawayangkeunnana GALAH, GALUH jeung GALIHNA. Lamun aya umat nu maksa, teu nurut pepeling kami, harta bandana kudu ancur, badana tangtu sangsara, di CIKEUSI, di CIMARGA, di PANIIS, di CIPAKU heunteu meunang nanggap wayang, sanajan nepi ka ahir. (Buku Pakuning Alam Kadarmarajaan Sumedang)

Artinya :

Di Darmaraja tidak boleh mengadakan pagelaran Wayang, sebab yang akan memainkannya Wayangnya Galah, Galuh dan Galinya. Kalau ada manusia yang memaksa, tidak menurut amanat buyut harta bendanya akan habis dan sengsara di Cikeusi, di Cimarga, di Paniis, di Cipaku, tidak boleh mengadakan pagelaran Wayang, sampai jaman seterusnya.
 


Makam Ratu Komalasari (Sunan Pancer) Ibunya Prabu Aji Putih di Desa Cipancar Kecamatan Sumedang Selatan Kabupaten Sumedang



2. Sunan Pancer (Ratu Komalasari) Ibunya Prabu Aji Putih
Ratu Komalasari (Sunan Pancer) adalah Ibunya Prabu Aji Putih yang menurunkan Trah-Treuh Kerajaan Tembong Agung dan Sumedanglarang.

Untuk mengupas sejarahnya sedikit historis sejarahnya di masa kerajaan Galuh jaman dahulu.


Berdasarkan sumber historiografi tradisional cikal bakal berdirinya kerajaan Sumedanglarang berawal dari kerajaan Tembong Agung (Tembong artinya nampak dan Agung artinya luhur).

Berdirinya kerajaan Tembong Agung sangat erat kaitannya dengan kerajaan Galuh Pakuan yang didirikan oleh Wretikandayun.

Prabu Wertikendayun penguasa kerajaan Galuh Purwa mempersunting Ratu Candraresmi melahirkan tiga putra yang bernama :

1. Sempak waja, yang menjadi penguasa Saunggalah Kuningan
2. Jantaka, penguasa Denuh
3. Mandiminyak yang menjadi penerus Galuh

Mandiminyak mempunyai kesempurnaan dibandingkan saudaranya Sempakwaja dan Jantaka yang lahir dalam keadaan cacat fisik, Mandimiyak pemuda yang tampan rupawan, cerdas dan memiliki bakat kepemimpinan sehingga timbul kecemburuan saudara-saudaranya setelah Mandiminyak menikah dengan putri cantik rupawan.


Untuk mengobati kecemburuan Sempakwaja dan Jantaka maka Prabu Wretikendayun menikahkan Sempakwaja dengan Pwah Rababu persembahan dari kerajaan Saunggalah dan setelah menikah sempakwaja bermukim di Galunggung dan melahirkan putra Purbasora.
 
Sedangkan Jantaka dinikahkan dengan Dewi Sawitri, setelah menikah Jantaka serta Dewi Sawitri mengikuti Sempakwaja bermukim di Galunggung karena merasa tidak layak tinggal di istana dipindahkan ke Denuh dan melahirkan Bima Raksa / Buna Raksa / Aki Balagantrang nama yang termashur ditatar sunda.

Prabu Mandiminyak lengser keprabon kemudian menobatkan Bratasenawa (Sangsena) menjadi pemangku kerajaan Galuh, penobatan tersebut mendapat reaksi dari kalangan pengagung, karena Bratasenawa lahir tidak melalui perkawinan yang syah, tetapi hasil perselingkuhan Prabu Mandiminyak dengan Pwah Rababu istri Sempakwaja yang tidak lain kakak iparnya Prabu mandiminyak sendiri.

Arya Bimaraksa dan Purbasora menyusun pasukan dengan merekrut rakyat limbangan dan Sumedang  bergabung dengan pasukan Purbasora lalu menyerbu istana Galuh.

Sehingga terjadi perang saudara dan Purbasora berhasil merebut istana Galuh, namun Bratasenawa berhasil meloloskan diri ke Gunung Merapi sehingga selamat dari gempuran Pasukan Purbasora.

Setelah Istana Galuh dikuasai Purbasora menjadi pemangku kerajaan kemudian mengangkat Arya Bimaraksa  menjadi Patih dan menikah dengan Dewi Komalasari dan hasil pernikahannya melahirkan :
1. Adji Putih.
2. Usoro.
3. Siti Putih.
4. Sekar Kencana.
Diawal kekuasaanya Purbasora mengikis habis pengikut Bratasenawa


Sementara Bratasenawa mendapat bantuan politik dari penguasa Kerajaan Kalingga utara, kemudian Candraresmi menobatkan Bratasenawa menjadi Pemangku kerajaan Kalingga Utara kemudian menikah dengan Sanaha melahirkan Raden Sanjaya. Kehadiran Sandjaya di Kalingga Utara membuat kekhawatiran Prabu Purbasora bahwa Sandjaya akan membalas dendam kekalahan ayahnya Bratasenawa sebagai penguasa sah Galuh.

Dugaan tersebut menjadi kenyataan Istana Galuh diserang oleh pasukan Sandjaya didalam pertempuran Prabu Purbasora diusia tuanya gugur ditangan Sandjaya.

Sedangkan Patih Bimaraksa dan istrinya Ratu Komalasari, Wiradikusumah  dan Wijaya Kusuma (penj. Wijaya Kusumah, Wiradikusuma, Ratu Komalasari putra & putri Purbasora), keluarganya berhasil meloloskan diri kedalam hutan belantara dan pasukan Sondjaya kehilangan jejaknya, dari penelusuran sampai di Daerah Seger Manik (daerah Desa Cipancar Kecamatan Sumedang Selatan sekarang). Semasa kecil Prabu Aji Putih tinggal bersama keluarganya di Daerah Seger Manik ini.


Kemudian Patih Bimaraksa melakukan perjalanan yang sangat jauh kearah utara melintasi hutan lebat sampai Citembong Agung Girang, Gunung Penuh, Mandalasakti, Gunung Sangkan Jaya (Gunung Nurmala) dan berakhir dikampung Muhara Leuwi Hideung Darmarajadisanalah Bimaraksa mendirikan Padepokan Tembong Agung sekaligus mendidik putranya Adji putih yang dipersiapkan sebagai Pemimpin yang tangguh.

Berdirinyanya kerajaan Tembong Agung menarik simpati para Resi di tatar sunda agar bisa mengatasi ambisi Prabu Sandjaya merebut dan menaklukan kerajaan-kerajaan berpengaruh ditatar sunda.

Prabu Sandjaya berhasil menggabungkan kerajaan MedangJati, kerajaan Indraprahasta dengan kerajaan Galuh. Kemudian mengangkat Patih Saunggalah (Kuningan) yaitu Wijayakusumah putra Purbasora menjadi pemangku kerajaan Galuh.
 

Kemudian Sanjaya pergi ke arah timur (Bumi Mataram) dan mendirikan kerajaan (Wangsa Sanjaya).

Namun tidak berlangsung lama berkuasa kemudian Wijaya Kusumah digantikan oleh Prabu Permadikusumah (Ajar Padang). Di awal kekuasaannya memindahkan kerajaan / keraton Galuh ke daerah Bojong Galuh Karang Kamulyan (Ciamis) kemudian mengangkat patih Agung Arya Bimaraksa dan mengangkat Tamperan Barmawijaya (putra Prabu Sandjaya) menjadi mentri muda kedudukanya sebagai Strategis Tempur/Perang.

Hubungan Prabu Permadikusumah (Ajar Padang)  dengan Patih Arya Bimaraksa bertambah dekat dan harmonis setelah Prabu Permadikusumah  menikah dengan Dewi Naganingrum putrinya Patih Arya Bimaraksa untuk mengikis perseteruan saudara dimasa lalu.


Kehadiran Bimaraksa diistana Galuh punya peranan cukup besar dalam perkembangan kerajaan Galuh yang semakin besar besar pengaruh dan disegani kerajaan-kerajaan ditatar Sunda.

Namun terjadi pergantian kekuasaan oleh Prabu Tamperan Barmawijaya (Arya Kebonan) putra Sanjaya. Pasukan Sunda ingin menghilangkan sisa-sisa orang Galuh yang berpengaruh akibatnya terjadi pertempuran.

Ki Balagantrang (Arya Bimaraksa) berhasil meloloskan diri dari pasukan Sunda pada malam pembinasaan Prabu Purbasora oleh Rakai Sanjaya kemudian tinggal di Geger Sunten (sekarang kampung Sodong Desa Tambaksari Kecamatan Rancah, Ciamis).

Ki Balagantrang  berserta pengikutnya berupaya menghimpun kekuatan untuk merebut kembali Galuh dari tangan Keturunan Sanjaya. Sebagai patih kawakan dan cucu Prabu Wretikandayun, Balagantrang mudah memperoleh pengikut dan pendukung, akhirnya Ki Balangantrang berhasil mendekati cicitnya Sang Manarah (Ciung Wanara) melalui tangan Sang Manarah ini Ki Balagantrang berhasil merebut Galuh kembali, serangan dilakukan ketika diadakan acara sabung ayam (panyawungan) kerajaan (antara Ciung Wanara dan Tamperan Barmawijaya) putra Sanjaya.  


Versi Darmaraja ketika dilakukan penyerangan ke Galuh adalah pada jaman Prabu Tajimalela yang dibantu Wadya balad Limbangan Garut.

Setelah berhasil merebut Galuh, tahta kerajaan diserahkan kepada Sang Manarah dan Ki Balagantrang / Aria Bimaraksa pesiun sebagai patih Galuh. Dan menjadi Resi Batara Agung.

Ki Balagantrang mempunyai beberapa orang anak yang salah satunya Guru Aji Putih Dalam Kitab Waruga Jagat bahwa Prabu Guru Aji Putih merupakan putra dari Ratu Komara keturunan Baginda Syah, putra Nabi Nuh yang ke-10.

Prabu Guru Aji Putih awalnya mendirikan padepokan di Citembong Agung Girang Kecamatan Ganeas Sumedang kemudian pindah ke kampung Muhara Desa Leuwi Hideung Kecamatan Darmaraja kemudian mendirikan kerajaan Tembong Agung.

Prabu Guru Aji Putih dari hasil pernikahan dengan Dewi Nawang Wulan (Ratna Inten) memiliki empat orang putra : yang sulung bernama Batara Kusumah atau Batara Tuntang Buana yang dikenal juga sebagai Prabu Tajimalela, yang kedua Sakawayana alias Aji Saka, yang ketiga Haris Darma dan yang terakhir Jagat Buana yang dikenal Langlang Buana.

Kemunculan kerajaan Tembong Agung mulai diperhitungkan oleh kerajaan lain, Tembong Agung mendapat pengakuan dan dukungan penuh dari Galuh, sebab Dewi Nawang Wulan adalah keponakan dari Prabu Purbasora selain kedudukan Aria Bimaraksa sebagai Maha Patih mempunyai peranan penting di Galuh sehingga memberikan pengaruh yang besar kepada Tembong Agung, selain itu pengakuan diberikan pula Prabu Resi Demunawan penguasa kerajaan Saung Galah, Resi Demunawan merupakan putera dari Prabu Batara Sempakwaja. Serta penguasa Galuh (Hariang Banga dan Sang Manarah)

Setelah menyerahkan kerajaan Tembong Agung kepada putranya Prabu Tajimalela, Prabu Guru Aji Putih menjadi mahaguru  Prabu Guru Aji Putih menganut ajaran Sunda Wiwitan / Agama Sunda (Sunda = Suci) yang mengakui Sang Pencipta itu Tunggal. Agama Sunda sudah dianut oleh masyarakat Sunda kuna sebelum agama Hindu menyebar di tatar Sunda dan sudah ada sebelum Dewarman bertahta di Salakanagara (130 – 168 ). 


Dalam kasumedangan :

Hanteu Hindu lain Budha
jeung hanteu saukur Sunda susundaan
Nyaring pikir hudang rasa
ngaping kahayang kaéling
dihibaran ku kasadaran
amparna sabar dharana jembar permana

Lain munjung muja ka batu
muji mupusti nu lain misti
tapi Munjung kanu Maha Agung
Muji kanu Maha Suci
Muja kanu Maha Kawasa
dibarengan Pancer tunggal kayakinan
"Karuhun marengan ~ Gusti nangtayungan"


Lain Hindu lain Budha
jeung hanteu saukur Islam-islaman
tapi Budi daya ning nastiti
Tunggal Si Ijuna Jati Nistemen
Selam : Salamet
teuleum neuleuman sagara ning kahirupan
manggihan manik mutiara ning Hurip
pakeun ngahurip diri ngalokat waruga jagat
ku Ra-Hayu rahmating Gusti
Rahmat keur sakabéh Alam...
=======================
(Insun medal ~ Insun madangan)


Dalam Babad Darmaraja diceritakan setelah mengetahui adanya agama baru (Islam) yang hampir mirip dengan agama Sunda maka Prabu Guru Aji Putih berangkat menuju Mekkah untuk menpendalam Agama Islam, sehingga Prabu Guru Aji Putih dikenal juga sebagai Prabu Guru Haji Aji Putih atau Haji Purwa Sumedang yang berarti orang Sumedang pertama berangkat Haji. Prabu Guru Haji Aji Putih adalah orang jawa yang masuk Islam dan berdakwah di wilayah bawahan kerajaan Sunda Galuh.

Prabu Guru Haji Aji Putih menciptakan beberapa karya sastra yang bernafaskan Islam salah satunya Ilmu Kacipakuan, diantaranya : 

1. "Ashadu sahadat bawa ngajadi, sahadat batin manusa, malaikat dat maring Allah, medal ti Adam, metuna ti Ratu Galuh, metuna ti kuncung Agung, medal cahyaning Allah, tina Sir acining putih, jasad sukma rohing nyawa'

2. "Sir Budi Cipta Rasa, Sir Rasa Papan Raga, Dzat Marifat Wujud Kula, Maring Allah, Maring Malaikat, Maring Purbawisesa, Terahwisesa, Ratu Galuh…..(Getaran jiwa adalah untuk menciptakan perasaan, perasaan untuk menghidupkan jasmani. Dzat untuk mengetahui diri sendiri, untuk mendekatkan diri dengan Tuhan pencipta alam semesta, untuk mengetahui sifat-sifat Tuhan dan mengetahui hati nurani, Cahaya Hati / Nurani….). 

Setelah wafat Prabu Guru Haji Aji Putih dimakamkan di Situs Astana Cipeueut terletak di Kampung Cipeueut Desa Cipaku Kecamatan Darmaraja Sumedang. Makam Prabu Guru Haji Putih terletak tak jauh dari makam ayahnya Sanghyang Resi Agung (Arya Bimaraksa) dan Dewi Nawang Wulan istrinya.

Berdasarkan sejarah Cipancar Ratu Komalasari bin Purbasora bin Sempakwaja bin Wretikendanyun (Eyang Istri Sunan Pancer), istrinya Aria bunaraksa atau Aria Bimaraks (Resi Agung),  yang menjadi Ibunya Raja Tembong Agung pertama yaitu Prabu Aji Putih, yang menurunkan keturunan kerajaan Sumedanglarang.

Berdasarkan buku ceritaan yang turun-temurun di Pak Toto(Kuncen), menjelaskan Prabu Aji Putih semasa kecilnya di Seger Manik dahulu (Cipancar) bersama orang tuanya yaitu Ratu Komalasari dan Aria Bimaraksa, cuma sewaktu mau berdirinya kerajaan Tembong Agung, lalu Aria Bimaraksa/Resi Agung bersama putranya meninggalkan Cipancar, mulai mendirikan padepokan di Citembong Girang Kecamatan Ganeas, lalu mendirikan Bagala Asih Panyipuhan di Kampung Muhara Desa Leuwi Hideung Kecamatan Darmaraja yang merekrut bala tentara dan para resi ditatar sunda, yang akhirnya mulai berdirinya Kerajaan Tembong Agung, sedangkan Ibunya Prabu Aji Putih (Ratu Komalasari) dan Uwaknya Wiradikusuma tetap mengurus padedokan di Cipancar, tidak ikut campur dalam urusan kerajaan di masa Tembong Agung di Darmaraja.

Makam Ratu Komalasari (Eyang Pancer Buana), Ibunya Prabu Aji Putih
(Raja Tembong Agung) Di Desa Cipancar Kecamatan Sumedang Selatan

Di sebelah kanan, kiri dan diatas makam Ibu Ratu Sunan Pancer Buana atau Ratu Komalasari bin Purbasora bin Semplakwaja bin Wretikendayun ada makam kakaknya yaitu Wira Dikusumah bin Purbasora bin Semplakwaja bin Wretikendayun, dan para badeganya cuma nama-namanya tidak diketahui dengan jelas.

Makam Wira Dikusumah (Sunan Pameres)
 
Menurut ceritaan turun temurun Desa Cipancar yang sekarang di pakai pemakaman umum Desa Cipancar Kecamatan Sumedang Selatan pada jamannya merupakan tempat paguron atawa padepokan untuk melatih ilmu kanuragan, sebab ada beberapa batu tatapakan kaki yang berada di tempat pemakaman umum Desa Cipancar.  



 

Namun sayang kurang mendapat perhatian dari Dinas terkait Tentang Situs dan Cagar Budaya yang telah diperdakan dalam PERDA KAB SUMEDANG NO 7 2015 TENTANG CAGAR BUDAYA.

=============
Revisi : 05/01/2017


Share This Post :
 
Copyright © 2015 -2017 sukma wijaya qomara. All Rights Reserved | Designed by kosmara.com | spbu mini by edipertamini | kurnia pertamini |
pertaminijakarta