Home » » Sekilas Sejarah Eyang Jagabaya Nantung Sumedang

Sekilas Sejarah Eyang Jagabaya Nantung Sumedang

Posted by SUKMAWIJAYA QOMARA
sukma wijaya qomara, Updated at: 06.12

Posted by SUKMAWIJAYA QOMARA on Senin, 24 Oktober 2016

Sedikit informasi mengenai penggalan kisah Sejarah Eyang Jagabaya Nantung Sumedang, yang saya dapatkan dari keturunan anggota keluarga Pajajaran yang kemudian masuk ke dalam kerajaan Sumedang Larang. 




Makam Nangtung Eyang Jaga Baya dan Eyang Mira Maya

Makam Eyang Singa Kerta Dusun Nangtung, Desa Ciherang Kecamatan Sumedang Selatan

Saya menulis kisah ini berdasarkan penuturan seorang ibu yang bernama Lia Juanita Suherli, istri dari alm. Charles van Rijk, di mana ibu mertua (ibu dari alm. Charles van Rijk) merupakan keturunan dari Eyang Jaga Baya yang merupakan seorang tokoh pada masa pemerintahan Prabu Geusan Ulun (1579 - 1601 M). Cerita ini diceritakan secara turun-temurun, dan saya merasa sangat beruntung dapat mendengarnya secara langsung.

Saya mohon maaf sebelumnya jika ada kesalahan atau kekurangan pada tulisan ini dari cerita yang sesungguhnya.

Diceritakan bahwa ibu dari Charles van Rijk yang bernama oma Iyot adalah putri dari Aki Adjoem (nama kecil) yang merupakan putra sulung dari Eyang Jaya Manggala. Eyang Jaya Manggala merupakan keturunan dari Eyang Jaga Baya yang bersaudara dengan Eyang Jaya Perkosa (Sanghyang Hawu) dan Eyang Terong Peot (Batara Pancar Buana).

Prabu Geusan Ulun bersama dengan Kandaga Lante mengunjungi Cirebon. Dan kemudian Prabu Geusan Ulun membawa pulang Ratu Harisbaya. Pada saat itu Prabu Geusan Ulun telah memiliki seorang permaisuri bernama Ratu Kencana Wungu.

Ratu Kencana Wungu (setelah mengetahui bahwa Prabu membawa seorang Ratu baru yang kemudian dinikahinya) meninggalkan kerajaan Sumedang Larang dan bertapa di suatu tempat. Ratu Kencana Wungu meninggalkan kerajaan dan melepas semua atribut kerajaannya karena tidak menginginkan Prabu Geusan Ulun memiliki dua orang Ratu. 


Ratu Kencana Wungu mengganti namanya menjadi Nyimas Cukang Gedeng Waru, dan beliau kemudian mengabdikan dirinya untuk membantu orang lain yang mengalami kesulitan.

Salah seorang dari Kandaga Lante, yaitu Eyang Jaya Prakosa yang pulang belakangan mengetahui bahwa Ratu Kencana Wungu telah meninggalkan kerajaan. Eyang Jaya Prakosa yang saat itu menjadi kaget dan sedih karena kepergian Ratu Kencana Wungu, bertanya pada saudaranya yang adalah Santowan Jaga Baya.

(Percakapan yang sesungguhnya dalam bahasa Sunda, namun saya menulisnya dalam bahasa Indonesia. Percakapan dalam tulisan ini adalah percakapan yang mewakili percakapan yang sesunguhnya terjadi).

“Mengapa anda membiarkan hal ini terjadi? Mengapa anda membiarkan Ratu pergi dari kerajaan?” kata Eyang Jaya Prakosa.

“Saya tidak berani, karena Prabu telah berkehendak demikian (menikah dengan Ratu Harisbaya)”, jawab eyang Jagabaya.

Eyang Jaga Baya tentu merasa kesulitan untuk menentang dan menghalangi kepergian Ratu Kencana Wungu.

Namun, Eyang Jaya Prakosa menjadi marah setelahnya dan berkata : “Kalau begitu adik tidak pantas untuk berada di sini!”

Seketika itu juga Eyang Jaya Prakosa memarahi Eyang Jaga Baya hingga Eyang Jagabaya pergi dan sampai pada sebuah tempat yang kemudian diberi nama "Nangtung"

Nangtung memiliki arti berdiri dalam bahasa Indonesia.

Sejak saat itu, Eyang Jaga Baya menetap di Nangtung begitu juga dengan keturunannya.

Jagabaya merupakan nama keprajuritan yang memiliki arti sebagai berikut, Jaga = menjaga, Baya = marabahaya. Jadi, sesuai dengan namanya Eyang Jaga Baya memang bertugas untuk menjaga dari suatu marabahaya.

Beliau juga yang berjaga di daerah Cadas Pangeran pada masa pemerintahan Prabu Geusan Ulun 
(1579 - 1601 M) yang saat itu merupakan pintu masuk menuju kerajaan Sumedang Larang.


Silsilah Eyang Jagabaya

Raga Mulya adalah raja terakhir Kerajaan Pajajaran. Nama ini dalam naskah Wangsakerta disebut juga sebagai Prabu Suryakancana, sedangkan dalam Carita Parahiyangan dikenal dengan nama Nusiya Mulya.

Prabu Suryakancana tidak berkedudukan di Pajajaran, tetapi di Pulasari, Pandeglang. Oleh karena itu, ia dikenal pula sebagai Pucuk Umun (Panembahan) Pulasari (mungkin raja ini berkedudukan di Kaduhejo, Kecamatan Menes pada lereng Gunung Palasari).

Dalam Pustaka Nusantara III/1 dan Kertabhumi I/2 disebutkan, Pajajaran sirna ing ekadaśa śuklapaksa Wesakamasa sewu limang atus punjul siki ikang Śakakala.

yang artinya, "Pajajaran lenyap pada tanggal 11 bagian terang bulan Wesaka tahun 1501 Saka." Tanggal tersebut kira-kira bertepatan dengan 8 Mei 1579 M.

Prabu Sakawayana adalah Putra Mahkota Terakhir Prabu Haris Maung (Raga Mulya), yaitu Raden Keling Sakawayana (Raden Aji Mantri).

Setelah kerajaan Pajajaran “burak” akibat di serbu oleh pasukan gabungan Banten dan Cirebon pada tanggal 15 mei 1579 masehi. Rajanya yang bernama Prabu Haris Maung atau Prabu Nusicamulya (atau yang mempunyai gelar Sakawayana) tidak terkabarkan lagi membangun pemerintahanya (Pajajaran) kecuali sebelum ia melakukan tirakat di puncak Gunung Halimun (hingga akhir hayatnya) Prabu Haris Maung berpesan kepada putranya agar mengabdi ke Negara Sumedang Larang.

Adapun putra Prabu Haris Maung (memerintah di Pajajaran pada tahun 1567-1579 M) yang di maksud tiada lain adalah Raden Aji Mantri alias Raden Keling Sakawayana, murid tersayang Sang Aduwarsa yang memimpin sebuah peguruan keagamaan di Cinangka (Cikampek).

Perlu diceritakan, dalam melaksanakan pesan atau amanat dari ayahnya itu, bulan oktober 1579 Masehi Raden Aji Mantri berangkat menuju Sumedanglarang dengan di kawal oleh empat orang pengawal pribadinya (Embah Kapuk, Embah Pincang, Raden Raja Koras dan Suryakancana wesah) dan 35 orang prajuritnya. Mereka tiba di Sumedanglarang pada bulan Januari 1580 Masehi dan selanjutnya mengabdi ke Negara tersebut.

Tidak lama setelah menikah dengan Nyai Mas Angkonglarangan (1583 M), Raden Aji Mantri beserta istri dan keempat orang pengawalnya, yang semula berdiam di lingkungan “Keraton Kutamaya” (Keraton Sumedanglarang) pindah dan menetap di sebuah tempat yang kini dikenal dengan nama “Dusun/Desa Serang” (berada di wilayah kecamatan Cimalaka Sumedang).

Di tempat tersebut, dengan mendapat dukungan dari penguasa Sumedanglarang saat itu (Prabu Geusan Ulun, 1579-1610 M), Raden Aji Mantri membangun sebuah Telaga (letaknya di belakang Bale Desa Serang yang sekarang) yang di kenal “Talaga Sakawayana”, Telaga yang di Sekelilingnya ditanami aneka pepohonan (diantaranya pohon kelapa yang disebut Kalapa Tujuh) dan ditengah-tengahnya terdapat “mata air” yang di sebut “Leutak Si Balagadama” itu, fungsinya selain untuk memperingati para leluhurnya yang telah membangun “Talaga Maharena Wijaya (di Bogor), sebagai tempat rekreasi para pengagung dan warga masyarakat Sumedanglarang juga untuk mengairi tanah-tanah pertanian yang ada di sekitarnya.

Setelah membantu roda pemerintahan Prabu Geusan Ulun selama kurang lebih 30 tahun (1580-1610), Raden Aji Mantri (yang menurut cerita dipercaya selaku penasehat kerajaan Sumedanglarang) kemudian mendirikan sebuah perguruan keagamaan (letaknya tidak jauh dari Talaga Sakawayana) yang diberi nama Sumedang Kahiyangan.

Di perguruan yang dipimpinya itu, Raden Aji Mantri mengajarkan sejumlah ilmu yang dianutnya (dikenal dengan sebutan Elmu Sakawayana) kepada murid-muridnya, baik murid yang datang dari wilayah Sumedanglarang maupun dari luar daerah, seperti Mataram (diantaranya Bapa Leutik yang menikah dengan salah seorang warga Serang).

Menginjak tahun 1660 Masehi, Raden Aji Mantri dipanggil oleh yang Maha Kuasa dalam usia yang sangat tua (105 tahun), jasadnya dimakamkan di sebuah “Gunung” (demikian disebutnya walau sebenarnya bukit) yang ada di Dusun Serang dan makamnya kini dikenal “Makam Keramat Gunung Keling“ atau “Makam Keramat Sakawayana” di Serang Belakang PDAM Cimalaka Sumedang.
 

Dari hasil pernikahanya dengan Nyai Mas Angkong Larangan, Raden Aji Mantri meninggalkan 6 orang putra/putri, mereka adalah :

1. Santowan Kadang Serang, menikah dengan Apun Ayu Ajeng Jawista, berputra 3 orang laki-laki, yaitu: Tanduran Sawita (Kyai Perlaya), Kyai Singa Manggala (Embah Gede) dan Kyai Tanu Jiwa atau lebih dikenal Ki Mas Tanu (ia berputra Raden Mertakara yang berdomisili di Banten), menurut Raden Widjajakoesoemah, dalam tulisanya yang berjudul “Tjarita Nagara Padjadjaran” (1846 M), ketiga putra Santoan Kadang Serang itu, pada masa hidupnya pernah mengabdi kepada Kumpeni belanda di Batavia, yaitu pada jaman Gubernur Jendral “Coen” (1627 M) dan sampai zaman Gubernur Jendral Speelman (1681 M). Mereka dipercaya memimpin 40 orang pekerja asal Sumedang untuk membangun tempat-tempat yang asalnya merupakan hutan belantara menjadi tempat pemukiman, seperti Kampung Bidara Cina, Kampung Bantarjati (Kampung Baru) dan sejumlah kampung yang berada di daerah Cipinang. 


Oleh karena pekerjaanya memuaskan, maka selanjutnya kumpeni mengangkat ketiga kakak beradik itu sebagai Prajurit serta masing-masing mendapat pangkat, yang sulung (Tanduran Sawita) ”Letnan” (dikenal dengan sebutan “Letnan Pengiring”), yang kedua Kyai Singa Manggala ”Sersan” (disebut “Sersan Kerta Singa”) dan yang bontot (Kyai Tanu Jiwa) sama dengan yang sulung, mendapat pangkat “Letnan”. Pada tahun 1680 Masehi, Tanduran Sawita dengan kedua adiknya mendapat perintah dari Speelman untuk mencari pekerja ke Sumedang sebanyak 100 orang.

Akan tetapi baru sampai ke hutan bekas pajajaran, yang telah memakan waktu sebulan lamanya, mereka mendapat musibah kekurangan makanan. Didekat mata air sungai “Ciluwer” yang ada di hutan tersebut, Tanduran Sawita menghilang dan tidak di ketemukan kembali (itu sebabnya dia dikenal Kyai Perlaya), sehingga kedua adiknya memutuskan untuk kembali ke Batavia.

2. Santowan Sawana Buana, menikah dengan Apun Ayu Ajeng Wanisah, secara turun menurun berputra Tanduran Mataram, Berputra Kiriya Manggala Sakawayana, berputra Darma Manggala, berputra Antamanggala, berputra Wangsamanggala, berputra Akmal Sutamanggala. Selanjutnya Akmal Suta Manggala berputra 3 orang laki-laki, yaitu :

- Pertama, Raden Dipa Wangsa (gugur ketika membantu Kyai Bagus Rangin bertempur melawan pasukan gabungan kumpeni dan Cirebon dalam Perang Bantarjati) dia berputra 4 orang yaitu : Wangsadinata (kepala Desa Serang pertama, memerintah tahun 1870-1885 M), Oneng, Haji Sa’id dan Engkung atau Ajib. Mereka melahirkan keturunan di Dusun Serang dan salah seorang putra Engkung yang bernama “Enden Ningsih” menikah dengan Pangeran Aria Kusumah Adinata atau “Panggeran Sugih” (Bupati Sumedang tahun 1832-1889) berputra “Nyai Raden Domas” kemudian ia berputra Raden Aom Bajaji, Raden Sule dan Nyai Raden Emek (melahiran keturunan di Bandung).


- Kedua, Raden Sawita menikah dengan Sawijah (janda dari Mas Ngabehi Jiwaparana IV, asal Wado Sumedang) berputra “Jibah” yang menulis “Buk Sakawayana” pada tahun 1841 Masehi.
- Ketiga Raden Kasjan, dikenal dengan sebutan Bapa Olot, ia menurunkan anak cucu di Dusun Serang dan Dusun/Desa Narimbang kecamatan Conggeang Sumedang.


3. Santowan Pergong Jaya (di Nangtung Sumedang) menikah dengan Apun Ayu Ajeng Larasati melahirkan keturunan di Tasik Malaya dan Ciamis.


4. Santowan Jagabaya (di Nangtung Sumedang), menikah dengan Apun Ayu Ajeng Alisah, berputra 4 orang yaitu : Embah Bage (di Panjalu), Raden Singa Nurun atau Singa Kerta (melahirkan keturunan di Nangtung Sumedang), Raden Nayamanggala atau Nayapenggala dan Nyai Raden Apun Pananjung (menikah dengan Susuhunan Amangkurat, berputra Raden Doberes). Lalu Raden Nayamanggala menikah dengan Nyai Tanduran Saka, berputra 2 orang, yaitu : Raden Inayapatra dan Nyai Mas Unggeng. Raden Inayapatra menikah dengan Embah Putri (asal Bogor), secara turun temurun berputra Raden Arjawayang (Antareja), berputra Raden Aris Surakarta, berputra Raden Kyai Lukman Candrawisuta, berputra Raden Kanduruan Cakrayuda, berputra Raden Bahinan (Camat Ciawi Bogor), berputra Raden Antahan (Camat Cimande Bogor), berputra Raden Entang, berputra Raden Muhtar, berputra Nyai Raden Mariah, berputra Nyai Raden Susi Lestari, yang melahirkan keturunan di Bogor. Sedangkan Nyai Mas Unggeng berputra Naya, yang menjadi “Jagasatru” di Sumedang.

5. Nyai Ayu Ratna Ayu (di Sumedang).


6. Nyai Jili atau Jilitahunyu (di Sumedang).



Sumber lain lain menuliskan silsilah Raden Aji Mantri (Sukawayana), yaitu :

1. Ratu Sakti gelar: 1543 - 1551 M, Pajajaran, Bogor, Raja Pajajaran ke 4 kematian: 1551, Pakuan Pajajaran berputra :

2. Ratu Nilakéndra/Tohaan di Majaya gelar: 1551 - 1567 M, Pajajaran, Bogor, Raja Pajajaran Ke 5 kematian: 1567 berputra :

3. Prabu Suryakancana/Prabu Ragamulya (Panembahan Pulasari) gelar: 1567 - 1569 M, Pulasari-Pandeglang, Raja Pajajaran ke 6 kematian: 1579 berputra :

4. Raden Ajimantri/Raden Keling Sakawayana, kelahiran: 1555 M, kematian: 1660 M, Penguburan: Situs Kramat Gunung Keling, Dusun Serang Kecamatan Cimalaka Sumedang . Sakawayana (Aji Mantri) menikah dengan Nyimas Angkong Larangan kelahiran: Menikah : 1583 M, berputra 6 orang :

1. Santowan Kadang Serang, kelahiran: 1585 M


2. Santowan Sawana Buwana, kelahiran: 1586 M


3. Santowan Pergong Jaya,  kelahiran: 1588 M


4. Santowan Jagabaya (Nangtung-Sumedang) 1590 berputra :

- Embah Bage, kelahiran : 1615 M Panjalu
- Raden Singa Nurun / Singakerta, kelahiran 1617 M
-Raden Nayamanggala / Nayapenggala, kelahiran 1619 M
- Ratu Kulon I / Raden Apun Pananjung, kelahiran: 1621 M (Cicit Raja Pajajaran terakhir, dari Prabu Suryakencana) 

5. Nyai Ayu Ratna Ayu, kelahiran : 1592 M


6. Nyai Jili / Nyai Jili Tahunyu (Sumedang), kelahiran 1594 M

 Sumber : http://id.rodovid.org/wk/Orang:903234

Hirarki Lengkap Santowan Jagabaya (Nangtung-Sumedang) : http://id.rodovid.org/wk/Istimewa:Tree/903234

 

Pendapat di Facebook mengenai Eyang Jagabaya yang Makamnya di Nantung

 

Kang Yadi : Saur abdi jigana Santowan Jagabaya, sarengan eyang Jaya Perkasa.

Kang Yadi : Malih aya carios di buku Mama Zakaria Bandung. Eyang Jabagaya kantos ngaguru ka syekh Quro Ka Karawang.


Dedi Kusmayadi (penulis)  : Muhun kang margi tahunna oge sami sareng masa pamarentah Eyang Geusan Ulun, Eyang Jagabaya teh, katambihan saur Kang Toto (Kuncen  Makam Tajur /Eyang Sutra Ngumbar sareng Eyang Jaya Perkasa desa Cipancar Kecamatan Sumedang Selatan)  Santowan Jagabaya teh, sami kapercayaanana sapertos eyang Jaya Perkosa, Eyang Jagariksa.

Kang Yadi : Tutunggulna Eyang Jagabaya alit,  lamun raja pasti tutunggulna hiji jeung Gede sami sareng situs di Cipaku Darmaraja. Abdi rada condong ka putra Rajamantri/Sakawayana.


Dedi Kusmayadi (penulis)  :  Sami abdi oge kang hate mah langkung cog ka Raja Mantri/ Sakawayana, kitu deui upami ngacu kanu ieu taunna masa pamerentah Geusan Ulun antara 1579 - 1601, Santowan Jagabaya Nangtung pacakeut taunnna ti kalahiranna 1590 M 

Dedi Kusmayadi (penulis) : kitu deui ninggal tutunggul sahandapeupeun makom Eyang Jagabaya katinggal tutunggul ngora (handapeun Saung Eyang Jagabaya)

 
Kang Yadi : Saurna jaman Pangeran Santri (Pangeran Kusumahadinata 1) nyarengan ngadegken/Nangtung ajaran Islam ngadamel paguron Arga wilis.


Kang Yadi : Matak sebat gunung nangtung = nangtungken komara jeung kaislaman. Gunung Argawilis eta nami Padepokan Argawilis. Nya eta padepokan kama'rifatan



Cag ah rupina pedaran cekap sakitu.

Pamungkas : "Hirup Kedah Nangtung, Ajeg ulah bengkok, kalawan Ikhlas dinu hate kanu Maha Ngersakeun" Saur Pa Kuncen Abah Abun anu ngaji pathoriqoohan ka mama ajengan Encep (alm).


Tabe pun,

_/|\_

Sugeng Rahayu

 
======
Catatan :
-Revisi kahiji 28/12/2016.  

Share This Post :
 
Copyright © 2015 -2017 sukma wijaya qomara. All Rights Reserved | Designed by kosmara.com | spbu mini by edipertamini | kurnia pertamini |
pertaminijakarta